What’s up - July

This week I began teaching at two senior high schools in Jakarta.  I teach Biology, of course.  I’m excited by the thoughts of what my students and I can do to help them with their goals.

Other than teaching, I’m editing a very wonderful book called The Gifted Kids Survival Guide: A Teen Handbook by Judy Galbraith and Jim Delisle.  Oh, if only this book was available in Indonesia when I was a child or a teen…

You can find my reviews on Osamu Tezuka’s Buddha and Kanno Aya’s Otomen in this month’s issue of Animonster (volume 101).  While next month, you are bound to read my report on the discussion held by Japan Foundation and KPG (called Buddha: Religion and Comic) and my review on Shiomi Chika’s Yurara no Tsuki and Rasetsu no Hana.

 Well then folks, your comments and opinions are always welcome :)

Tags: ,

Calendar

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Recent Comments

  • nina: haha jayus jg lo.. :D kidding hehe
  • tyas: mmm... gimana ya? dipas-pasin aja waktunya, bisa kok :) cu...
  • nina: hahaha.. punya gw itu cuma amuletnya doang, gw dapet dari bo...
  • tyas: hehehe gapapa... seru lagi diskusi :) punya gue emang hiasa...
  • nina: wah, itu juga info baru tuh buat gw.. gw jg pny tapi gak ada...
  • tyas: Salam kenal juga. Ya ga papa lah pake bahasa indonesia, ses...
  • nina: halo, nama gw nina.. salam kenal.. (gpp kan pake bhs indo? h...

Hi, salam kenal. Nama saya Hang Utomo (nama sebenarnya) Saya memutuskan untuk menggunakan nama sebenarnya karena saya tertarik untuk berkomunikasi dengan anda. Saya seorang penggemar anime dan sangat tertarik dengan budaya Jepang (you know what, merupakan impian saya untuk pergi ke Jepang jika diberi prioritas untuk keliling dunia ^_^) dan saya juga seorang penganut Ajaran Buddha (walopun saya malas pergi ke Vihara ^_^) Saya mengoleksi manga Buddha tulisan Osamu Tezuka karena saya tahu karya ini fenomenal dan saya juga ingin tahu biografi Sang Buddha dalam pandangan seorang Osamu Tezuka. Manga ini makin dibaca makin menarik karena menceritakan riwayat hidup Sang Tathagatta yang berbeda dengan yang dituturkan dalam Kitab Suci Tripitaka. Dalam manga ini Sang Yang Tercerahkan terkesan lebih manusiawi daripada dalam Tripitaka dimana bisa ditemui Sang Buddha sewaktu belum mencapai Penerangan Sempurna bisa mengalami rasa kemanusiawianNya seperti marah, sedih, kecewa, kesakitan dll dengan kata lain mengalami ‘Penderitaan’ pada diriNya sendiri. Sehingga dengan pengalamanNya ‘menderita’ Dia bertekat untuk menemukan jalan keluar dari penderitaan itu sendiri. Inilah yang menjadi kualitas Sang Guru Agung yang tanpa lelah dan dengan tekat luar biasa kuat berusaha mencapai tujuanNya. Padahal pada masa itu penderitaan dianggap merupakan nasib manusia bahkan Sang Buddha dianggap ‘miring’ dengan tekatNya tersebut. Sang Buddha akhirnya mencapai Penerangan Sempurna dengan menyadari adanya penderitaan, mengerti akar dari penderitaan (asal mula penderitaan), lenyapnya penderitaan (penderitaan bisa dilenyapkan) dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Inilah yang disebut 4 Kebenaran Mulia (The Four Noble Truths). Sekilas merupakan inti ajaran Sang Thatagatta. Saya harap anda tidak mengantuk karenanya ^_^. Kembali ke manga Buddha, saya malah berpendapat manga Buddha harus dimiliki oleh semua umat buddha dan simpatisan buddha karena berbeda dengan yang ada di Tripitaka. Mengapa saya berpendapat demikian? Karena sesuai dengan ajaran Sang Buddha bahwa kita harus melakukan Ehi Passiko (bahasa Pali, bahasa yang digunakan Sang Buddha dalam menyebarkan ajaranNya) yang artinya mencari pengertian yang benar, mengujinya dengan cermat dan kemudian meyakininya dengan melakukan yang benar. Pandangan yang berbeda dari Osamu Tezuka memberikan pemahaman lain dari ajaran Buddha bahwa ajaranNya bisa dicapai oleh manusia manapun juga dengan bukti bahwa Sang Buddha sebelum mencapai Penerangan Sempurna juga adalah manusia biasa seperti kita yang hidup di bumi sekarang ini. Jika kita hanya mengacu saja dari Tripitaka maka kita tidak melakukan pengujian yang cermat yang sudah tidak sesuai dengan Ehi Passiko. Saya menemukan beberapa teman dan sahabat saya yang memberikan pendapat miring tentang manga tersebut. Saran saya kepada mereka adalah anggap saja hanya membaca komik, mengapa dibuat pikiran (Emang Gue Pikirin, begitu kata Gus Dur) tidak lebih dari itu. Terus terang saya belum membaca review anda di Animonster 101, yang ingin saya komentari adalah pada ulasan anda di Animonster 102 tentang Bedah Komik Buddha: Agama Dan Komik. Disana anda menulis “Saya pikir, di Indonesia pembaca Buddha dapat dibagi tiga. Satu, yaitu pembaca komik yang awam mengenai Jepang dan juga bukan penganut Buddha… Kedua, yaitu pembaca komik yang cukup tahu mengenai Jepang meskipun mungkin bukan penganut Buddha… Yang ketiga adalah pembaca penganut Buddha yang berpegangan pada riwayat resmi Buddha yang dipegang di Indonesia dan tidak begitu paham mengenai Jepang. Mengapa anda tidak memikirkan bahwa ada orang Indonesia yang penganut Buddha dan sedikit banyak paham dengan dunia komik Jepang? Saya heran mengapa anda tidak terpikirkan hal itu? Seharusnya ada 4 buah kemungkinan diatas yaitu: 1. Tidak tahu Jepang, bukan umat Buddha; 2. Tahu Jepang, bukan umat Buddha; 3. Tidak tahu Jepang, umat Buddha; 4. Tahu Jepang, umat Buddha. Anda boleh tidak menjawabnya jika anda tidak nyaman atas tulisan saya. Saya hanya mewakili teman-teman saya yang tahu Jepang dan umat Buddha. Mereka sangat konsen dengan artikel yang ada di Animonster itu. Sebelumnya saya meminta maaf sebesar-besarnya jika saya menyinggung anda dalam tulisan ini. Selamat berkarya dan semoga sukses atas usaha-usaha anda dan semoga anda berbahagia dalam kehidupan anda.

Halo Hang Utomo, terima kasih atas komentar Anda mengenai tulisan saya. Pertanyaan Anda akan saya jawab di sini, selain saya kirimkan ke e-mail Anda.
Kalau Anda perhatikan, kategori nomor 2 yang saya tulis adalah ‘yaitu pembaca komik yang cukup tahu mengenai Jepang meskipun MUNGKIN bukan penganut Buddha’. Karena itu, implikasi dari pernyataan ini adalah pembaca seperti Anda, yang merupakan penganut Buddha dan merupakan orang yang paham Jepang, tergolong ke dalam kelompok KEDUA. Dengan penjelasan ini saja, saya merasa tidak perlu memperpanjang masalah. Yang terjadi adalah Anda dan teman-teman Anda meleset memahami makna dalam kalimat saya - makna kata ‘MUNGKIN’ dalam kalimat saya.

Saya juga punya kok teman Buddha yang penggemar anime-manga, jadi jangan khawatir saya melupakan sesama penggemar seperti Anda sekalian.

Sekali lagi, saya sangat berterima kasih atas komentar saya. Terus beri saya masukan, ya! (Dan tolong sampaikan penjelasan saya ini pada teman-teman Anda.)

Minal aidin wal fa idzin, mohon maaf lahir batin ya mbak Tyas!!

Selamat atas pembelian tabletnya! semoga tambah jago ngewarnainya ;)
oh iya silahkan mampir ke sini http://midztoyz.blogspot.com/2007/10/i-still-hereand-sculpting.html

Ada kejutan yang harusnya udah dari dulu selesai..hehehe.
Sekalian panas-panasin mbak Kudu hehehehe