Some time after writing The Death to Come – when the manuscript was floating publisher-less in limbo – I decided to pick up the characters again and started writing a new novel. The novel was set in 19th century England, in which William Gray, now an adult, found a young boy with mysterious, extra-ordinary powers that nobody could educate. He took charge of the boy and sent him to study under his previous master, Edward A. Twickenham. Then they got involved in a giant swirling political vortex. (All vortices swirl, I know.)
I abandoned this project after thinking that the time gap was too wide – there must be another work inbetween that explains how the world of The Death to Come came into being like in The Grey Eyes (the result would be The Grey Labyrinth, but after I finished writing that, I became convinced that The Grey Eyes just wouldn’t do as the next book in the trilogy.) Another reason is that I realised how thick the shadows of Jonathan Stroud’s Bartimaeus trilogy in it were they sucked the boots off my feet.
The novel remains unfinished, but I took some of the characters to the third book in the trilogy – newly designed etc. – with its working title being The Lord of Misrule.
Here is Chapter Four of The Grey Eyes, titled ‘Ulang Tahun’ (Birthday). Written in Indonesian, no beta/second party editing.
Guntur berjumpa Mr Gray lagi di suatu sore yang panas di pengujung bulan Juli.
Saat itu ia sedang berlari-lari pulang dari rumah tetangga, Keluarga Robertson, yang memiliki dua orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki. Ia bertabrakan dengan Mr Gray di salah satu belokan jalan setapak menuju ke rumah Mr Twickenham.
Mr Gray tetap mengenakan setelan abu-abu lengkap (kali ini bergaris-garis) meskipun suhu saat itu rasa-rasanya cukup untuk menceplok telur di atas batu yang disinari terik matahari sepanjang siang.
“Selamat sore, Mr Gray,” Guntur menyapa sopan, mendadak merasa amat malu karena pakaiannya sendiri kotor dan tidak rapi.
“Selamat sore,” balas Mr Gray, tanpa sama sekali menunjukkan tanda-tanda ia memerhatikan kondisi pakaian Guntur. “Kelihatannya kau sehat sekali. Pipimu jauh lebih merah daripada waktu kubawa ke sini. Bagus.” Ucapan itu terasa agak janggal karena diucapkan oleh Mr Gray yang berkulit amat pucat, namun Guntur tidak berkomentar.
“Anda mau berjalan-jalan?”
“Ya. Mau menemani aku?” Mr Gray memutar-mutar tongkatnya.
Guntur melirik ke arah rumah Mr Twickenham, yang dari tempatnya berdiri hanya terlihat sebagai segunduk atap.
“Tidak apa-apa,” kata Mr Gray dengan nada menenangkan. “Sedang ada tamu yang ingin diterima Mr Twickenham secara pribadi. Jadi menurutnya kita sebaiknya menghabiskan waktu berdua dulu saja.”
“Oh. Baiklah kalau begitu, Sir.”
Mereka berdua mulai menyusuri jalan setapak, namun tidak ke arah rumah keluarga Robertson, melainkan ke arah pantai.
Oleh karena Mr Gray tidak kunjung membuka percakapan, Guntur mencoba menjadi orang pertama yang memulai obrolan.
“Dulu Anda dibesarkan di sini juga, Sir?”
“Hm—apa?” Mr Gray seperti baru tersadar dari lamunan. “Oh, tidak. Aku kelahiran Yorkshire. Desa kecil, nyaris tak pernah ada di peta. Lalu saat usiaku 15 tahun, Edward mengangkatku dan aku ikut tinggal dengannya di Norfolk.”
“Mr Twickenham pernah bercerita sedikit mengenai waktu Anda berdua pertama bertemu, Sir.”
“Begitukah?” Tanpa diduga-duga Guntur, Mr Gray duduk tanpa menghiraukan celananya yang terbuat dari bahan mahal menjadi kotor karena tanah dan rerumputan. Guntur mengikuti jejaknya. “Dia cerita kalau dulu tubuhku kecil sekali?”
“Tidak, Sir.”
“Yah, semula aku hanya dikira kurang gizi atau apalah. Waktu kecil tubuhku memang lemah. Hal yang biasa saja untuk anak kesebelas dari tiga belas bersaudara keluarga petani miskin. Namun sepertinya itu karena sejak usia tertentu, pertumbuhanku melambat. Gara-gara Bakat Penyihirku.”
Guntur mulai melihat prospek suram mengenai pertambahan tinggi badannya beberapa tahun ke depan. Berapa waktu yang diperlukan Mr Gray hingga mencapai tinggi badannya yang sekarang?
“Cukup berbicara mengenaiku.” Mr Gray mengibaskan tangannya. “Bagaimana kemajuanmu belajar?”
Guntur menggosok-gosok hidungnya. “Yah, saya merasa banyak mengetahui hal baru, sekaligus merasa baru belajar sangat sedikit, Sir.”
“Itu perasaan yang baik sekali.”
“Mr Twickenham memberi saya buku Mantra untuk belajar, Sir. Kata beliau, saya harus membebaskan Mantra-mantra itu dari jeratan kertas dan tinta.”
“Apakah bukunya sudah kuno, bersampul merah dengan huruf sulaman emas?” Mata Mr Gray yang berlainan warna tampak berbinar senang.
“Ya, Sir.”
“Dulu buku itu juga yang kupakai. Kamu masih bisa baca huruf-hurufnya?”
“Di asrama dulu, kami sudah diajari Bahasa Kuno dan cara membaca naskah-naskah kuno, Sir.”
“Bagus sekali.” Mr Gray tersenyum puas.
“Mengapa Anda tidak membawa serta buku itu sewaktu tidak lagi tinggal bersama Mr Twickenham, Sir?”
Senyum Mr Gray kini agak miring ke kanan. “Karena isinya sudah ada di sini semua.” Ia menunjuk kepalanya yang tertutup topi bowler. “Dan karena kupikir suatu hari pasti ada anak lain yang akan memerlukannya. Kalau kubawa, tak ada gunanya, karena aku tak mau menjadi guru bagi siapa-siapa.”
Guntur menahan diri untuk tidak bertanya mengapa.
“Nah, pemikiranku, tepat, kan.”
“Ya, Sir.” Guntur mengangguk membenarkan.
“Seberapa banyak Mantra yang sudah kaukuasai? Berapa banyak yang telah membuka diri padamu? Berapa banyak Mantra yang telah terkuakkan oleh Bakatmu?” Mr Gray mencecar Guntur.
“Beberapa Mantra sederhana sudah saya kuasai, Sir,” Guntur agak ragu-ragu, karena tidak begitu memahami pertanyaan-pertanyaan Mr Gray. “Mantra lain ada yang sudah saya hapal, tapi ternyata tetap juga tak bisa saya gunakan.”
“Ah, itu biasa. Berarti Mantra-mantra itu tidak menyambung dengan Bakat-mu.”
“Sayangnya saya belum tahu benar Bakat saya apa, Sir.”
“Tidak apa-apa. Santai saja. Terkadang memang perlu waktu lama sampai kita benar-benar tahu apa Bakat kita sebenarnya. Sewaktu baru mulai belajar, aku setengah mati berusaha menguasai Mantra-mantra seperti Panah Api dan lain sebagainya, tapi percuma saja. Sampai sekarang juga aku tak pernah menguasai Mantra-mantra Pemikat Lawan Jenis dan semacamnya.” Mr Gray tergelak.
Guntur teringat gadis-gadis yang dilihatnya mengelilingi Mr Gray dulu, dan di hatinya yang muda tebersit rasa iri karena pria itu bahkan tidak perlu Mantra Pemikat Lawan Jenis untuk merasakan kehormatan itu.
Guntur berdehem. “Saya sebetulnya ingin tahu Bakat Sejati Mr Twickenham, Sir. Beliau tidak pernah menunjukkan apa-apa pada saya, selain contoh-contoh Mantra sederhana, seperti Pelepas Simpul atau Penggali Lubang.”
Mr Gray menatap Guntur dengan amat serius, sehingga anak itu merasa telah mengajukan pertanyaan yang salah. “Kalau begitu kau harus menunggu sampai ia menceritakannya sendiri padamu, Dekker. Ada alasan mengapa ia tidak senang menunjukkan kekuatannya pada orang lain. Hanya itu saja yang bisa kuberitahukan padamu.”
“Oh. Baik, Sir.”
Mr Gray berdiri, menopangkan tubuhnya pada tongkatnya. “Ayolah kita pulang saja. Hari memang masih lumayan terang, tapi kupikir pasti sudah waktu makan malam… Mana jam sakuku? Ah, ya, semoga tamu-tamu itu juga sudah angkat kaki.”
Ternyata sewaktu mereka tiba di rumah Mr Twickenham, tamu-tamu yang dimaksud Mr Gray baru saja keluar dari pintu depan. Mereka adalah tiga orang pria berpakaian hitam-hitam meski di tengah-tengah musim panas. Salah seorang di antaranya, yang melangkah duluan dan tampak sangat berkuasa, bahkan mengenakan jas berkerah tinggi, yang ditegakkan sampai menyentuh dagunya. Pria itu berusia tiga puluhan tahun, dengan rambut hitam ikal dan sepasang mata hijau pekat. Ia dan Mr Gray sama-sama berhenti melangkah, dan jarak satu setengah meter yang memisahkan mereka mendadak bagaikan selebar Samudra Atlantik. Pria bermata hijau itu ternyata saingan Mr Gray dalam hal tersenyum: entah apa arti senyum yang terpampang di wajahnya, karena kata licik pun sepertinya tak cukup menampung semua makna dalam senyuman tersebut.
“Mr Gray.”
“Mr Sprenger.” Mr Gray menyentuh ujung topinya sebagai tanda salam basa-basi.
“Kebetulan sekali Anda datang ke sini juga hari ini, ya.”
“Ya, kebetulan sekali. Saya harap mobil saya tidak menghalangi mobil Anda.”
“Tidak, terima kasih atas kekhawatiran Anda. Dan saya harap saya tidak mengganggu Anda yang sudah jauh-jauh datang dari London.”
“Oh, sama sekali tidak, Mr Sprenger. Saya selalu senang sedikit bumbu pedas dalam makanan saya, jika saya boleh membuat kiasan.”
Mr Sprenger sedikit lebih tinggi daripada Mr Gray, dan hal itu secara sengaja semakin ia tonjolkan dengan membusungkan dada. “Yah, selamat menikmati waktu senggang Anda, kalau begitu. Ngomong-ngomong, saya dengar ada penulis yang terinspirasi menulis cerita tentang ada.” Nada suaranya menyiratkan iri, yang amat dipahami Guntur, karena ia pun kerap merasakan darahnya menggelegak jika teman-temannya mendapat nilai yang lebih bagus di sekolah. “Yah, cerita tentang pria perlente yang abadi tentu disukai pembaca, kan?”
“Saya tersanjung kalau itu betul,” Mr Gray tersenyum tipis. “Hanya saja pengarang itu harus mencari nama lain yang lebih menarik daripada nama saya. Gray—sangat biasa. Apalagi William. Yah, setidaknya ia harus mencari nama depan yang lebih menarik. Brennan, mungkin… atau Dorian…”
Mr Sprenger tampak tidak berniat meneruskan percakapan itu. Tanpa mengucapkan salam pamit, ia dan kedua rekannya melewati Mr Gray dan Guntur, masuk ke dalam mobil hitam yang tidak kalah mentereng dengan mobil Mr Gray. Mobil mereka dengan segera menderum pergi. Mr Gray dan Guntur menyaksikan sampai mobil itu hilang di tikungan.
“Pejabat Khusus Henry Sprenger, Badan Pengawasan Penyihir, Departemen Dalam Negeri.” Sebelum Guntur sempat bertanya, Mr Gray sudah menjelaskan. “Seseorang yang sialnya punya Bakat amat tinggi dalam Sihir-sihir Perlindungan. Sewaktu tidur pun Mantra Perlindungan Pribadi-nya bekerja. Ya, sayang sekali,” kata Mr Gray yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya ia ingin sekali melakukan hal buruk pada Mr Sprenger seandainya saja laki-laki berambut hitam itu tidak dilindungi oleh Sihir selama 24 jam penuh.
Mr Gray mendahului Guntur masuk ke dalam rumah Mr Twickenham. Sang pemilik rumah sedang duduk membisu di sofa depan, dengan sebelah tangan menopang dagu.
“Tamu yang tidak diharapkan, ya?” Mr Gray menyeringai.
“Terlalu pongah,” Mr Twickenham mengangkat bahu.
Mr Gray tertawa. “Itu karena ia tidak terlalu kenal Anda.” Ia melirik Guntur, yang tampak jelas berusaha menahan keingintahuannya dengan segala daya-upaya dan kesopansantunan yang ia punya. “Ia membawa permintaan apa lagi sekarang?”
“Permintaan? Caranya menyampaikan lebih mirip perintah. Kalau permintaan, bisa kutolak. Kalau perintah, berarti aku tidak patuh pada Yang Mulia Ratu…” Mr Twickenham mengucapkan Yang Mulia tepat dengan nada yang berarti bahwa ia sama sekali tidak merasa pemegang gelar itu pantas digelari mulia.
Mr Gray berdecak. “Penyihir Glamorgan.”
“Dan aku bangga karena itu.” Mr Twickenham mendengus. Mr Gray dan Guntur menempati sofa di hadapannya. “Dia bilang akan segera ada perang.”
“Lagi?” Guntur membelalak.
Mr Gray hanya mendesah. “Terra Incognita, ya.”
“Ya. Menurutnya, Prusia, Parthia, Jimmu, dan tentu saja Britania akan berlomba-lomba menancapkan kekuasaan di sana. Beberapa negara lain ragu-ragu.”
“Mengapa, Sir?” Guntur menyembur, karena ketertarikannya yang membuncah.
Mr Gray dan Mr Twickenham berbarengan menoleh ke arahnya.
“Yah—“ Mr Gray mengerling Mr Twickenham.
“Mereka memperebutkan Rahasia-rahasia Sihir yang tersimpan di benua itu,” Mr Twickenham menjelaskan dengan datar. “Dahulu tanah tersebut melahirkan banyak sekali Penyihir hebat, yang mewariskan Sihir mereka secara turun-temurun melalui nyanyian maupun tulisan yang tertera di gua-gua yang setua Waktu. Dan pastinya masih banyak benda dan tempat keramat di sana. Kini hampir semua kekaisaran besar ingin mengklaim Rahasia-rahasia itu, terutama karena tidak lagi banyak Penyihir setempat yang bisa mempertahankan Terra Incognita.”
“Oh!” seru Guntur takjub. “Hal itu baru diketahui belum lama ini, ya?”
Mr Twickenham menggosok-gosokkan tangannya yang tadi menyangga dagu ke ubun-ubun. “Yah, baru sejak ekspedisi-ekspedisi para, emm, Generasi Baru akhirnya berhasil mencapai benua tersebut, berkat pelayaran yang semakin maju dan melemahnya pertahanan penduduk Terra Incognita. Kami para Penyihir Lama sudah tahu sejak berabad-abad lalu, tentu saja, tapi kami tidak memberi tahu siapa-siapa.”
“Wah! Jadi sebenarnya para Penyihir Lama sudah pernah mengunjungi Terra Incognita? Maksud saya—Sir…”
“Yah, pernah. Aku juga pernah, kok.” Mata Mr Twickenham menerawang. “Sayang sekali, kalau sampai tanah itu jatuh ke tangan para cecunguk-cecunguk rakus Kekaisaran…”
Guntur baru sekali itu mendengar Mr Twickenham mengutarakan pendapat yang begitu sengit mengenai Kekaisaran, dan ia agak berjengit karenanya. Bagaimana pun juga, dalam hatinya masih tertanam rasa hormat kepada Kekaisaran yang diajarkan kepadanya sedari kecil. Mr Gray hanya mengangkat sebelah alis, yang sepertinya tanda persetujuan terhadap kata-kata Mr Twickenham.
“Dan mereka ingin Anda membantu usaha merebut Terra Incognita?”
“Itu, atau mempertahankan tanah ini sementara banyak Penyihir, Alkemis, dan Prajurit yang dikirim ke Terra Incognita untuk membuang-buang nyawa mereka.” Mr Twickenham mengusap wajahnya yang tampak lelah dengan kedua belah tangannya, menahan napas cukup lama sebelum akhirnya mengembuskannya.
Mr Gray tidak berkata-kata; ia sudah kenal baik gurunya sehingga tak perlu bertanya macam-macam lagi mengenai perasaan gurunya mendengar permintaan—atau perintah—itu.
Mr Twickenham berdiri. “Sudahlah. Aku tadi sudah memberi tahu Sprenger bahwa keputusanku belum juga berubah. Aku tak mau ikut-ikutan perang-perang konyol mereka itu. Kita omongkan yang lebih menarik saja. Hei, Dekker, kemari.”
Guntur patuh, mendekati gurunya.
Mr Twickenham merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebatang peluit. Sekali lihat pun terlihat jelas itu bukan peluit biasa. Peluit itu terbuat dari kayu yang sangat bagus—kayu pohon ek suci, yang sekarang sudah jarang—dan berhiaskan ukir-ukiran huruf-huruf Kuno. Peluit tersebut tampak begitu indah, dan Guntur hanya dapat menganga takjub melihatnya.
“Sekarang memang baru tanggal 30 menurut Kalender Matahari, tapi hari sudah malam, dan menurut Kalender Bulan hari sudah berganti. Jadi ini sudah hari ulang tahunmu. Terimalah ini.”
Guntur tergagap-gagap senang. “Waduh, Sir! Ini—ini terlalu indah, Sir! Terima kasih banyak!”
“Kau tahu itu peluit apa?”
“Eh—tidak, Sir.”
Mr Twickenham dan Mr Gray tertawa berbarengan.
“Itu Peluit Pelikan Kurir,” Mr Gray menerangkan.
Mata Guntur seakan ingin copot dari rongganya. “Pelikan Kurir! Tapi saya kira mereka hanya—“
“Yah—kami yang sengaja menyebarkan gosip bahwa mereka sudah punah, tapi tentu saja itu bohong,” Mr Twickenham menyeringai. Guntur sudah paham bahwa kata ‘kami’ yang dimaksudkan dalam kalimat semacam itu adalah ‘para Penyihir Lama’. “Tidak apa-apa, toh Penyihir Generasi Baru sudah punya berbagai cara berkomunikasi jarak jauh. Namun Pelikan Kurir amat berguna dan praktis pada kondisi-kondisi tertentu. Pengetahuan mengenai cara memanggil dan memanfaatkan Pelikan Kurir hanya diberikan pada Penyihir-penyihir terpilih.”
“Kehormatan ekslusif.” Mr Gray mengangguk.
Guntur serasa ingin meledak karena bahagia dan bangga, dan matanya mulai berkunang-kunang. Ia tak pernah menerima hadiah semenakjubkan itu sepanjang hidupnya.
“Ayo. Biar kutunjukkan caranya.” Mr Twickenham membuka salah satu jendela samping. ”Sekarang tiup peluit itu, Dekker.”
”Dengan nada apa, Sir?”
”Nada apa saja yang kau suka. Yang penting bagi para pelikan itu adalah ada Penyihir yang membunyikan peluit. Peluit itu takkan berbunyi jika bukan Penyihir yang meniupnya.”
Guntur meniup peluit itu sekencang-kencangnya, namun tak ada bunyi apa pun yang keluar. Ia memandang kedua gurunya dengan kecewa. Mr Twickenham hanya tertawa pendek. ”Tidak apa-apa. Suara peluit itu memang tidak terdengar oleh kita. Tunggulah beberapa saat lagi… ah, itu dia. Kebetulan ada yang sedang melintas di dekat sini.”
Terdengar bunyi kepakan sayap yang keras dari arah langit. Guntur mendongak ke arah datangnya suara dan melihat salah satu pemandangan paling berkesan yang takkan terlupakan seumur hidupnya. Di bawah cahaya bulan yang redup, sepasang sayap putih dan hitam yang terbentang lebar mengepak-ngepak, membawa tubuh pemiliknya merendah ke ambang jendela. Dan seekor pelikan paling besar dan paling cantik yang pernah dilihat Guntur pun telah bertengger di jendela. Matanya yang tampak cerdas menatap ketiga orang dalam ruangan itu dengan anggun.
”Maaf mengganggu, pelikan yang baik,” Mr Twickenham mengulurkan tangannya, mengelus-elus kepala burung itu. ”Tapi kami ingin memperkenalkan Penyihir muda ini padamu. Ia telah memperoleh peluitnya sendiri, sehingga suatu hari nanti ia mungkin akan menggunakan juga jasa kalian.”
Pelikan itu memusatkan pandangannya ke mata Guntur. Agak lama mereka bertatapan, mencoba saling mengenal. Akhirnya burung pelikan itu tampak puas, dan kembali memandang Mr Twickenham, yang kini mengalihkan perhatiannya pada Guntur lagi.
”Apabila kau hendak menyurati seorang Penyihir, tulis suratmu, lebih baik kalau dalam Bahasa Kuno. Bukan apa-apa, hanya kesopanan antar-penyihir saja. Gulung, atau masukkan dalam amplop, kemudian letakkan ke dalam paruh pelikan ini.” Seolah ingin turut membantu memberikan tutorial, sang pelikan membuka paruhnya lebar-lebar, menunjukkan bagian dalam yang cukup luas. ”Beri tahu ia Penyihir mana yang kau kirimi surat, dan nanti dia akan mengantarkannya langsung. Pelikan Kurir pasti menemukan Penyihir mana pun, kecuali yang menggunakan Mantra Penutup Keberadaan. Pelikan-pelikan ini dilatih khusus oleh sebuah klan Penyihir Balkan yang mewarisi bisnis ini turun-temurun.”
”Bisnis?”
”Ya. Ada iurannya.”
”Uh… berapa?”
”Pokoknya setara dengan harga tiga gram emas per tahun.”
”Oh.” Guntur terdiam, dan tanpa sengaja melontarkan pertanyaan yang kurang ajar, ”Guru punya uang untuk itu?”
Tawa Mr Gray meledak. ”Tentu saja dia punya. Selalu ada orang yang berniat membeli artefak kuno, dan banyak orang yang menggemari artikel-artikel sejarah, apalagi yang ditulis oleh saksi matanya sendiri.”
Mr Twickenham hanya tersenyum kecil. Ia mengambil secarik kertas dan pena, lalu mengangsurkannya pada Guntur.
”Sekarang tulislah nama lengkapmu, dan masukkan ke paruh pelikan. Dengan demikian namamu akan terdaftar di catatan pengguna Pelikan Kurir.”
Guntur patuh.
Dan sewaktu ia kemudian mengamati pelikan itu kembali terbang menjauh dengan gagah, ia merasa menjadi seseorang yang amat berbahagia.



4 comments
Comments feed for this article
Trackback link
August 24, 2010 at 9:10 pm
Pingback from Mata Kelabu · Fantasy Fiesta 2010 + an abandoned project featuring William Gray
August 25, 2010 at 10:20 pm
vetronela
Rame kak!!!!!
wah lucu nih kalo ada si Guntur..dekker Guntur dong berarti namanya ya kak?
asiklah pokoknya. kalo ada lagi bilang2 ya kak..^____^
August 26, 2010 at 7:34 pm
tyas
Makasih ya Vetronela :) Sebenarnya namanya Guntur Dekker (Dekker nama keluarganya). Hihihi iya, ntar kalo ada lagi dikasih tahu deh.
August 30, 2010 at 2:51 pm
vetronela
hahahaha.. dikirain dekkernya di depan, pas pertama-tama baca jadi inget pelem-pelem di indosiar. kan ada tuh yang main characternya namanya guntur.. hehehehe. tapi guntur yang ini pasti lebih mannnttaaabbbzzzz